Dinamikabengkulu.com_Tradisi sunat perempuan hingga kini masih dapat ditemui disejumlah kelompok masyarakat. Meski secara kesehatan dianggap sangat berbahaya, namun nyatanya tradisi ini tetap dipegang kuat dan dipraktikan hingga kini.
Menurut data World Health Organization (WHO), sunat perempuan masih umum dipraktikkan di sejumlah negara di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Fenomena ini juga meluas di Indonesia dengan alasan yang beragam, sebut survei global dari UNICEF. Praktik ini sudah tidak lagi disarankan lantaran menyimpan berbagai risiko.
Apa itu sunat perempuan?
Dikutip dari Hellosehat.com pada Jumat 6 Mei 2022, sunat perempuan adalah segala bentuk prosedur yang melibatkan pengangkatan, pemotongan, atau pembuangan sebagian atau seluruh alat kelamin eksternal perempuan.
Prosedur ini juga kerap disebut sebagai mutilasi genital perempuan yang berisiko menimbulkan cedera pada organ genital perempuan untuk alasan non-medis.
Berdasarkan jenis prosedurnya, sunat perempuan dibagi menjadi 4 tipe berikut.
Tipe 1: Pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar klitoris dan/atau selaput klitoris.
Tipe 2: Pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar klitoris dan lipatan dalam vulva (labia minora), dengan atau tanpa pengangkatan lipatan luar vulva (labia majora).
Tipe 3: atau disebut juga infibulasi, yang dilakukan untuk mempersempit lubang vagina dengan lapisan penutup buatan dari memotong atau mengubah posisi labia minora atau labia majora, atau menjahit lubang vagina.
Tipe 4: Meliputi seluruh prosedur pada vagina untuk tujuan non-medis, seperti menusuk, piercing, memotong, menggores, atau membakar area kemaluan.
Kenapa sunat perempuan dianggap berbahaya?
Terlepas dari kepercayaan masyarakat dan alasan menjalaninya, prosedur sunat wanita tidak aman, bahkan ketika sunat dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan terlatih di lingkungan steril.
Medikalisasi sunat perempuan hanya memberikan jaminan keamanan palsu dan tidak ada pembenaran medis untuk melakukan hal ini.
Mutilasi genital perempuan memiliki dampak serius bagi kesehatan seksual dan reproduksi perempuan, berikut ini di antaranya:
- Komplikasi yang mungkin menyebabkan kematian
Komplikasi langsung dari sunat perempuan, termasuk: nyeri kronis, syok, perdarahan, infeksi tetanus, retensi urin, ulserasi (luka terbuka yang sulit sembuh) pada area kelamin dan kerusakan pada jaringan di sekitarnya, infeksi luka, infeksi kandung kemih, demam tinggi, dan sepsis.
Perdarahan hebat dan infeksi dari praktik ini bisa menjadi sangat serius hingga menyebabkan kematian.
- Kesulitan untuk hamil dan komplikasi saat melahirkan
Beberapa wanita yang menjalani prosedur sunat perempuan mungkin akan kesulitan untuk hamil, sedangkan mereka yang bisa hamil dapat mengalami komplikasi saat melahirkan.
Dibanding wanita yang tidak pernah menjalani prosedur sunat wanita, mereka yang menerima prosedur ini berisiko lebih besar untuk membutuhkan prosedur khusus.
Ambil contohnya, episiotomi, perdarahan setelah melahirkan, dan masa rawat inap di rumah sakit yang lebih panjang.
- Kematian bayi saat dilahirkan
Wanita yang menjalani prosedur ini lebih mungkin untuk menjalani proses persalinan yang lebih lama dan penuh hambatan.
Janin dari ibu yang pernah mengalami sunat juga memiliki peningkatan risiko yang signifikan terhadap kematian saat lahir.
- Konsekuensi jangka panjang
Konsekuensi jangka panjang dari sunat perempuan, di antaranya:
anemia, pembentukan kista dan abses (benjolan bernanah akibat infeksi bakteri), pembentukan jaringan parut keloid, kerusakan pada uretra yang berakibat pada inkontinesia urin berkepanjangan, dyspareunia (hubungan seksual yang menyakitkan), disfungsi seks, dan peningkatan risiko terhadap penularan HIV.
- Trauma psikis
Anak yang menerima prosedur sunat wanita di usia yang sudah cukup besar dapat mengalami trauma yang menyebabkan sejumlah masalah emosional dalam hidupnya, termasuk: depresi, kecemasan, post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau bayangan reka ulang terhadap pengalaman tersebut yang berkepanjangan, kepercayaan diri yang rendah, serta gangguan tidur dan mimpi buruk.
Stres psikologis dari sunat wanita tersebut mungkin memicu gangguan perilaku pada anak-anak yang mengalaminya.***
